Jalan malioboro merupakan pusat pembelanjaan utama yang terbentang sepanjang jantung kota dari stasiun kereta api sampai ke keraton. malioboro juga merupakan kawasan yang memiliki banyak losmen, hotel, toko, restauran yang menawarkan banyak hal bagi para pengunjung. sepanjang malioboro banyak pedagang kaki lima yang menjual berbagai sauvenir untuk cinderamata dan lesehan yang buka pada malam hari.
Memasuki Malioboro, wisatawan akan disambut hotel legendaris di Yogyakarta. Semenjak pendiriannya pada tahun 1908, hotel yang mulai beroperasi semenjak 1911 ini telah membenahi dirinya, dari cottage
hingga menjadi hotel megah berbintang empat dengan tetap mempertahankan pola arsitektur awalnya yang merupakan satu bangunan utama serta bangunan tambahan di sayap kanan dan kiri. Bernama awal "Grand Hotel De Djokdja" pada masa penjajahan Belanda yang hanya menampung wisatawan-wisatawan Gubernur Belanda saja, kini menjadi Inna Garuda yang bisa diakses oleh masyarakat luas. Jika kebetulan wisatawan menginap di tempat ini dan menempati kamar 911 atau 912, ruangan tersebut sempat menjadi kantor MBO (Markas Besar Oemoem) TKR pimpinan Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang
menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.
Memasuki Malioboro, wisatawan akan disambut hotel legendaris di Yogyakarta. Semenjak pendiriannya pada tahun 1908, hotel yang mulai beroperasi semenjak 1911 ini telah membenahi dirinya, dari cottage
hingga menjadi hotel megah berbintang empat dengan tetap mempertahankan pola arsitektur awalnya yang merupakan satu bangunan utama serta bangunan tambahan di sayap kanan dan kiri. Bernama awal "Grand Hotel De Djokdja" pada masa penjajahan Belanda yang hanya menampung wisatawan-wisatawan Gubernur Belanda saja, kini menjadi Inna Garuda yang bisa diakses oleh masyarakat luas. Jika kebetulan wisatawan menginap di tempat ini dan menempati kamar 911 atau 912, ruangan tersebut sempat menjadi kantor MBO (Markas Besar Oemoem) TKR pimpinan Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang
menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.

No comments:
Post a Comment